Senin, 28 Oktober 2013

Hati yang Patah

Aku akan pergi ke Surabaya. Jangan pernah mencariku lagi, kau pantas mendapatkan yang lebih baik.
Pesan singkat Kenza dini hari tadi masih berputar di benakku sepanjang perjalanan menuju bandara. Ku pejamkan mataku, pikiranku sibuk mereka-reka apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan terjadi tanpanya di kota kecil ini, Palangkaraya. Kenangan-kenangan dua tahun kebersamaan kami memenuhi pikiranku.
Mereka bilang Kenza selalu menyakitiku. Mereka selalu berkata tentang Kenza yang selalu egois. Kenza yang mau menang sendiri. Kenza yang tak pernah menghargaiku. Kenza yang lebih memilih menghabiskan waktunya bersama teman-temannya bermain games online hingga tengah malam. Tapi Kenza lebih dari sekadar itu.
Aku rindu Kenza yang membawakan kado serta kue ulang tahun pada tengah malam di ulang tahunku yang ke enam belas. Aku rindu saat kami hanya duduk dalam diam di taman kota. Aku rindu dengan sambutan hangat keluarganya setiap kali aku main ke rumahnya. Aku rindu Kenza yang setiap kali ketahuan merokok sibuk membela dirinya. Aku rindu Kenza yang menjadi kapten sepak bola sekolah. Aku rindu dirinya yang aku tahu mencintaiku.
“Sabarlah, Fa. Aku yakin kita masih sempat menyusulnya.”
“Iya, Ra.” Hanya kata itu yang dapat ku ucapkan, kata yang penuh dengan pengharapan.
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, motor kami baru tiba di bandara. Aku tak mempunyai ide lain kecuali berlari. Takut-takut kalau aku tak sempat menemui Kenza dan akan kembali bertemu dengannya setelah waktu yang demikian lama.
Pikiranku kalut. Mataku dengan liar memandang sekeliling berharap menemukan sosok Kenza di salah satu sudutnya. Air mataku hampir tumpah dan hampir saja aku menyerah saat Kara menunjuk ke arah pintu masuk. Tante Vani, ibunda Kenza berada di sana. Dan tanpa berpikir segera ku temui tante Vani.
“Ah rupanya kau, Nafa. Tante kangen sekali, sudah lama kau tak main ke rumah. Siren juga selalu menanyakanmu, ia selalu mencarimu.”
Aku mencoba tersenyum, menahan air mataku yang hampir melewati batas pertahanannya. Sambutan hangat tante Vani, pelukannya. Hal yang selalu ku rindukan dari keluarga ini. Kepergian bunda saat melahirkanku membuatku kehilangan sosok seorang ibu. Ah, apakah tante Vani tak mengetahui perpisahanku dengan Kenza lima bulan yang lalu.
“Emm, jika tante mengijinkan aku ingin bertemu Kenza. Aku ingin melihatnya sebelum kepergiannya ke Surabaya.”
“Ah ya, tentu saja kedatanganmu kesini adalah untuk melepas keberangkatan Kenza. Tunggulah sebentar disini, tante akan memanggilnya.”
Dan disanalah Kenza, berjalan ke arahku. Tidak, dia seperti bukan Kenza yang ku kenal. Sorot matanya memancarkan keengganan bertemu denganku,  tidak ada cinta disana. Semua kebagiaanku seakan telah terenggut oleh tatapannya itu. Tante Vani dan Kara menjauh dari kami, memberikan ruang untuk berbicara.
“Aku tak punya banyak waktu hanya untuk berbasa-basi. Katakan apa maumu?”
Oh Tuhan, bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata sedingin itu. Bagaimana bisa dia melupakanku secepat ini. Bagaimana bisa cintanya menguap begitu saja.
“Selamat ulang tahun, Za. Hapy Kenza’s day.” Aku berusaha terlihat ceria.
“Itukah? Tidak adakah hal penting lain yang ingin kau katakan? Cepatlah, aku terburu-buru.”
Ya Tuhan, tolong kuatkan aku. Bagaimana bisa lelaki yang aku cintai berubah menjadi sosok yang seolah tak mengenalku, menganggapku seperti orang lain tak dikenal yang tak sengaja berjumpa. Atau justru menganggapku sebagai orang terakhir yang ingin ditemuinya. Kuatkan hatiku, Tuhan.
“Semoga kau bahagia dengan pilihan kepergianmu ke Surabaya.” Aku menggigit bibirku, berusaha terlihat tegar menahan rasa sesak di dadaku. Ku berikan sebungkus kado bewarna biru dengan tangan gemetar.
“Tak perlu. Bawalah kado ini pulang. Aku ingin melepaskan semua kenangan tentangmu. Aku tak ingin ada hal tentangmu yang masih tersisa saat aku telah di Surabaya. Aku ingin membuka lembaran hidup yang baru disana, tanpa bayang-bayangmu lagi.”
Deg. Kata-kata Kenza seketika meruntuhkan pertahanan hatiku. Air mataku seketika tumpah dan tanpa memperdulikan pandangan orang sekitar aku berlari menjauhinya, berusaha menata hatiku yang berantakan. Tak ada pelukan perpisahan, tak ada permohonan jangan pergi. Hanya ada isak tangis dan perih. Hanya ada hati yang patah.


0 comments:

 
blog template by suckmylolly.com