Kamis, 21 November 2013

Oleh-Oleh dari STAN

STAN. Ah, siapa sih yang nggak mau masuk STAN? Sudah kuliahnya gratis, setelah lulus, kerja kita sudah dijamin lagi sebgai PNS. Itu kenapa amel sama nisa dan kiki ngebet pengen kesana. Yah walaupun pada akhirnya nggak berjodoh kesana, tes STAN kita beda sama tes masuk univ lain yang Cuma sekedar datang ke ruang ujian terus ngerjain soal. Perjalanannya itu loh yang penuh kenangan dan cerita yang tak terlupakan.
Nah di STAN itu daftarnya via online. Yah kayak sistem kebanyakan gitulah. Nah tap tesnya Cuma diadain di kota-kota tertentu dan kota tempat tinggal amel, Palangkaraya, nggak termasuk kesana. Dan akhirnya amel bareng nisa sama kiki mengambil tempat tes di kota terdekat, Banjarmasin, yang ditempuh dengan waktu kurang lebih empat jam.
PENGAMBILAN SEMACAM-KARTU-PESERTA
Dan ternyata sebelum tes kita disuruh ngambil yah-bisa-dibilang-semacam-kartu-peserta-gitulah ke kota tempat kita tes. Dan kita bertiga akhirnya berangkat ke Banjarmasin, ke luar kota untuk pertama kalinya tanpa didampingi orang tua ataupun guru atau apapun itulah. Tempat pengambilan semacam-kartu-peserta itu di kantor pajak Banjarmasin, jadinya sebelum berangkat ke Banjarmasin mamah nanyain tempat nginap yang terdekat dari situ ke temennya yang ada di Banjarmasin. Dan dipilihlah mes kalteng sebagai penginapan.
Hari itu kita mesan travel yang jam dua siang. Rencana awalnya sih pagi, tapi berhubung kiki paginya itu ada tes di sekolah penerbangan, jadilah diundur. And you know what, travelnya baru jemput sekitar setengah empat. Sumpah ini nunggunya ah begitulah. Dan dengan gampangnya sang supir bilang lupa, gedubrak!
Ah ya, hari ini bulan ramadhan, dan amel memutuskan tetap puasa, yang sayang aja kalo bolong gitu. Eh nggak taunya di tengah jalan amel mabok, dan jadilah amel memutuskan untuk membatalkan puasa amel sudah capek banget soalnya ini perut muntah dan badan pun lemes. Lalu kita sampe di Banjarmasin itu malam, sekitar jam setengah sembilan kalau nggak salah, yah untuk Banjarmasin yang ngikut ke WITA jadilah jam setengah sepuluh. Sampe di mes, kepala amel rasanya masih pusing, perut juga masih mual. Dan kita bertiga memilih untuk rebahan dulu sambil nonton TV, dan saat itu kita memilih nonton pesantren rock and roll, ah jatuh cinta banget sama cowo-yang itu-yang-sama-dinda-kirana haha.
Jadinya di malam kedatangan kita cuma makan roti yang emang dibawa dari rumah sebelum berangkat dan nggak nyari makanan lagi. Dan satu hal yang kita lupa, kalo ini Banjarmasin dan bakal susah buanget cari makan kalau siang. Sumpah ya, paginya itu kami ke kantor pajak dulu buat ngambil itu kartu peserta(bilang aja gitulah). Hari itu giliran amel yang ngambil, soalnya nisa sama kiki dapat giliran yang hari selanjutnya. Dan dari sekian berkas yang diperlukan, ternyata KTP perlu di-copy. Ah itu hari masih pagi banget, dan fotokopi terdekat dari situ masih tutup. Jadilah kita bertiga muter-muter dengan jalan kaki buat nyari fotokopi-an yang sudah buka. Setelah nanya ke orang, akhirnya dapat, walaupun cukup jauh. Akhirnya kita balik ke kantor pajak lagi. Ah akibat kita muter-muter itu, kita jadi nggak terlalu lama nunggu antriannya. Ah iya, waktu kita datang pertama tadi kita dikasih nomor antrian.
Dan setelah itu seketika lapar. Ya, kita bertiga nggak puasa, nisa sama kiki lagi halangan dan amel masih kurang enak badan. Dan jadilah kita kembali muter-muter buat nyari makan. Bayangin, dari malam emang nggak ada makan nasi, namanya juga perut indonesia. Dan setelah cerita ke mamah, mamah bilang temenna yang di Banjarmasin bakal bantuin nyari dan hasilnya nihil. Alhasil mamah sms lagi nyuruh makan aja ke cafe hotel arum. Yah daripada lapar tak terkira jadilah kita bertiga kesana. Dan harganya di luar ekspetasi, tidak ada menu dengan harga 30 ribu! Rata-rata itu 50 ribu dengan minum 20 ribu! Demi perut ini mikirnya, jadilah kami tetap makan disana. Amel mesan soto banjar karena lagi pengen makan yang berkuah, nisa mesan tom yam, dan kiki mesan ayam panggang. Sumpah, harganya nggak sesuai bro, mengecewakan! Soto banjar amel nggak enak eh, masih enakan juga yang dijual di warung-warung atau buatan sendiri yang biasa dimakan. Ayam kiki rasanya hambar, tanpa bumbu. Dan tom yam nisa cuma sedikit isinya. Dan entah bagaimana waktu bayar ke kasir harganya naik lagi, totalnya jadi 300 ribu untuk kita bertiga, broh! Pikir aja dengan rasa makanan yang yah-begitulah kita masing-masing harus bayar 100 ribu. Pikir aja amel soto banjar dengan lemon tea harus bayar 100 ribu! Bisa buat makan steak sama minum jus itu mah dan masih ada kembaliannya malah. Sumpah, kalau bukan demi perut ini..
Terus malam harinya rumah makan udah pada buka dan kami memilih makan di KFC yang dekat dari mes. Alhamdulillah yah 30 ribuan dapat nasi sama lauk yang enak, sumpah sampe malam perihal 100 ribu itu masih kita bahas, haha. Setelah dari KFC kita mau nyari minimarket dan nanya-nanya ke orang. Awalnya sih lanacar-lancar aja perjalanannya, tapi eh ada kayak bapak-bapak yang nongkrong di pangkalan ojek terus sambil tepuk-tepuk tangan. Jadi parno lah kita bertiga, secara cewe semua gitu. jadilah kita batalin niat ke minimarket dan berbalik arah balik ke mes.
TES-TES-TES
Terus beberapa minggu setelah pengambilan katu peserta itu diadakanlah tes. Nah tempat tesnya itu beda sama tempat pengambilan kartu peserta. Kalau kartu peserta di kantor pajaknya kan ya, nah kalau tesnya itu diadain di GOR. Lagi-lagi dicari penginapan yang terdekat dan dipilihlah hotel blue atlantic, kebetulan lagi diskon ramadhan tuh *hoho.
Dan setelah siang sampai disana, sorenya kita bertiga survei lokasi GORnya sekalian tempat duduknya, biar kalau pas hari H-nya nggak sibuk cuma buat nyari lokasi. Tenyata jaraknya lumayan jauh dari hotel, yah lumayan buat olahraga, hehe.
Setelah survei lokasi kita berniat nyari minimarket buat beli cemilan. Kita nanya ke warga sekitar, eh nunjuknya malah ke ramayana. Pikir aja, itu kan bukan mimarket. Eh terus entah gimana caranya tu orang malah nanya ke tukang becak dan kami dengan polosnya juga ikut-ikutan nanya. Jadilah sang tukang becak malah menawarkan tumpangan ke kita bertiga. Dengan memaksa. Kita bertiga sudah berkali-kali nolak tapi sang paman tukang becak tetap memaksa. Akhirnya hati kita bertiga luluh dengan keteguhan hati sang tukang becak yang berniat buat ngantar ke minimarket. Dan jreng jreng jreng adilah satu buah becak dinaikin kita bertiga. Silahkan dipikirkan sendiri gimana rasanya, posisi duduk benar-benar nggak pewe sama sekali, dan jaraknya lumayan jauh pula. Dan oh man, ternyata yang ditunjukin sang paman itu cuma toko biasa, itu juga ternyata sebenarnya awalnya pamannya nggak tau tempat yang mau dituju! Setelah sampai, sang paman menawari buat ngantar balik dan dengan serentak kita nggak mau dan ternyata jarak buat balik itu ternyata cukup jauh pemirsa, dua kilo kali ya.
Dan di hari H, tesnya diadain jam 9, jadilah kita berangkat dari hotel itu sekitar jam 8.30. sesampainya disana, ternyata sudah sepi, ibu-ibu yang di luar GOR pake bilang kalau tesnya sudah mulai lagi. Dan jadilah kita bertiga lari-lari buat masuk ke dalam. Semua orang memang sudah di posisi masing-masing tapi ternyata tes belum dimulai. Jadilah kita bertiga yang datang telat ini dengan cueknya melewati tengah GOR buat ngambil posisi duduk masing-masing. Sumpah, nggak enak banget tesnya, susah nyari posisi pewe, nggak ada sandaran, dan nggak ada meja, jadilah nulis di papan alas yang dibawa masing-masing. Setiap berapa menit selalu ganti posisi, mulai badan tegak, bungkus, kaki dilurusin, kaki disilang, kaki disilang di tempat duduk, sampai kaki diangkat satu. Selesai dari tes ini jadilah kita bertiga yang awalnya niat banget buat jalan-jalan, sesampainya di hotel langsung tepar dan tidur.

Selasa, 05 November 2013

Memories

Hujan, 30 Oktober, dengan sempurna meresonasikan semua ingatan tentangmu, 3 tahun yang lalu. Masihkah kau ingat hari ini sayang? Hari dimana kita seharusnya merayakan 3 tahun hubungan kita. Masih kuingat pipimu yang bersemu merah saat aku menyatakan perasaanku. Tepat tiga tahun sebelum hari ini, di restoran cepat saji itu, saat hujan turun seperti hari ini, kau mengangguk dengan malu-malu.

Sayang, masih segar di ingatanku, bagaimana kita yang saling mencuri pandang di tengah jam pelajaran lalu seketika membuang muka saat pandangan kita berjumpa. Senyummu yang dibingkai dua lensung pipi itu masih dapat kulihat dengan jelas bahkan hingga kini, meski kau telah pergi meninggalkanku.

Sayang, aku masih ingat perasaan itu, debar itu saat pertama kali mengajakmu keluar malam, menghadiri pensi sekolah. Kau tahu betapa gugupnya aku saat meminta izin kepada kedua orang tuamu. Dan teman-teman sekelas kita yang tiba-tiba heboh melihat kita datang berdua karena sebelumnya kita terlalu malu bahkan hanya untuk bertatapan, hanya berani melalui sms, betapa konyolnya jika diingat kembali.

Sayang, tahukah kau bahkan hingga kini aku tak bisa melupakanmu? Setiap sudut kota ini menyimpan kenangan kita, langkah-langkah kebersamaan kita. Lihatlah ke taman kota di dekat bundara kecil itu, tempat kita menghabiskan sore. Saat itu, masih banyak pedagang disana dan aku masih begitu hafal cemilan favoritmu, piscoke, pisang coklat keju. Melihatmu memakannya dengan lahap selalu membuatku begitu gemas. Atau lihatlah ke palangkaraya mall yang kini bak bangunan mati itu, di foodcourt-nya kau membawakan kue ulang tahun pada ulang tahunku yang ke 16. Atau di 21-nya saat kita kehabisan tiket dan terpaksa menonton kartun animasi, ekspresimu, tawamu saat itu kini begitu ku rindukan. Dan meskipun dengan tubuhmu yang mungil itu, kau sangat suka wisata kuliner. Setiap restoran ataupun warung makan yang baru saja dibuka, tak pernah absen dari tujuan kita, menghabiskan waktu, bercengkrama.

Sayang, aku baru saja menyelesaikan tahun pertamaku di fakultas kedokteran universitas Indonesia. Ya, di kampus impianku sayang. Andai kau bisa melihatku saat aku mengenakan yellow jacket-nya. Andai aku bisa berbagi kebahagiaan ini bersamamu duhai sayangku.

Sayang, tahukah kau bahwa aku sangat amat merindukanmu? Apakah kau juga merindukanku? Kau memintaku mencari cinta yang lain saat kau telah pergi, tapi aku masih menunggu hadirmu, aku masih sendiri, sayang. Mungkin kini ku tak dapat lagi untuk melihatmu, mungkin 10 Januari dua tahun yang lalu benar-benar merupakan perpisahan kita, perpisahan yang tak terelakkan lagi. Aku hanya dapat berdoa di atas pusaramu semoga kau tenang di alam sana, semoga kita kan dipertemukan kembali disana, dalam keabadian.

Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana, tenanglah diriku dalam kedaimaian.
Ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi, namun cintamu abadi

Sabtu, 02 November 2013

Q.S. An-Naml (27) : 62-63

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan ,menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat. Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha-tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan

 
blog template by suckmylolly.com