Jumat, 03 April 2015

Cinta Pertama

Mereka bilang kau akan sulit melupakan cinta pertamamu. Syla. Aku pikir dialah jawaban untuk pertanyaan siapa cinta pertamaku. 6 tahun yang lalu, awal putih biru-ku, saat pertama kali melihatnya seakan semesta hanya tertuju padanya.  Dengan rambut hitam sebahu yang dibiarkannya tergerai, dia tampak cantik. Syla tidak seperti perempuan seusianya yang saat itu mulai memoles wajahnya dengan lipgloss, mascara, ataupun eyeliner. Syla mampu merenggut seluruh perhatianku dengan wajahnya yang hanya dipoles dengan bedak tipis.


Cinta monyet. Mungkin kau akan berkata begitu seperti yang selama ini kupikirkan. Selepas SMP, kami melanjutkan SMA di sekolah yang berbeda. Satu dua kali kami bertemu secara tidak sengaja dan ia hanya tersenyum kepadaku. Ia memang cukup pendiam. Aku masih ingat beberapa kali berhasil mendapatkan nomor ponselnya dan mengirimkan sms-sms iseng padanya lalu ia hanya membalas seadanya, terkesan dingin dan cuek. Apakah aku sebegitu tak berharganya di matanya? Apa salahku hingga ia bahkan tak melihat ke arahku sama sekali? Beberapa kali pikiran seperti itu hadir dan segera ku abaikan untuk kemudian kuputuskan melepaskannya dan menghapus rasa di hatiku.


3 tahun yang lalu, awal putih abu-abuku, aku jatuh hati (lagi) pada seseorang. Lia merupakan gadis yang periang. Ia sedikit demi sedikit berhasil menghapus Syla dari hatiku. Aku menyayangi dan sangat menghargainya. Bahkan saat beberapa kali terdengar kabar kedekatanku dengan teman sekelasku ia tetap percaya padaku. Meskipun saat itu kuketahui ada seseorang yang menunggu hatinya dan aku pikir lebih baik dibanding diriku, namun begitu ia tetap saja memilihku. Sejak hari itu tak pernah lagi Syla terpikirkan olehku kecuali hanya sekilas. Terkadang beberapa ada yang bertanya tentang Syla dan aku hanya tersenyum seraya menjawab bahwa Syla hanya bagian dari masa laluku. Ya, aku memang tak mempunyai perasaan apapun lagi terhadapnya.


Namun kemudian kejadian tempo hari berhasil merobohkan seluruh pertahananku terhadap Syla. Otakku serasa membeku. Aku pikir aku telah melupakannya, aku pikir perasaanku kepadanya telah meluruh dengan sempurna. Namun nyatanya tidak. Kembali melihatnya tersenyum dari kejauhan saja ternyata mampun mengembalikan perasaanku. Dan kemudian aku merasa mendapat sengatan listrik saat kusadari ia bersama seorang laki-laki yang aku tebak merupakan kekasih Syla. Entah ini merupakan perasaan cemburu atau bagaima. Belum selesai aku berpikir, aku kembali dikejutkan dengan…


“Deva!” Lia melambaikan tangan ke laki-laki itu dan kemudian menarikku untuk mengikutinya.


Tebakanku ternyata benar, Deva merupakan kekasih Syla. Deva sangat ramah dan terlihat cerdas, pantas saja Syla jatuh hati padanya. Ia bercerita banyak hal termasuk awal jatuh hati pada Syla dan ia yang baru diterima Syla setelah dua kali mengatakan perasaannya. Syla hanya tersenyum dengan pipi memerah sementara Lia dengan senang hati mendengarkan semua kisah mereka.


Segalanya telah berubah sejak saat itu. Entah bagaimana perasaan ingin memiliki Syla justru lebih besar dibanding sebelumnya. Aku tak perduli dengan Lia, aku tak perduli dengan Deva, yang aku inginkan adalah bersama Syla. Beberapa kali kami berkumpul berempat, mungkin bisa disebut couple date. Beberapa kali juga aku bercanda dengan Syla. Ia sedikit berubah, kini ia mulai bisa membuka dirinya pada orang lain. Hal itu justu membuatku semakin (kembali) jatuh hati padanya.


Aku pikir Lia tak mempermasalahkan aku yang sering bertemu Syla, aku pikir ia tak menaruh curiga. Tetapi mungkin benar bahwa wanita memiliki semacam indra keenam untuk masalah seperti ini. Pada akhirnya Lia bertanya juga. Tapi kukatakan padanya adalah aku menyayanginya dan tak akan melepaskannya. Aku tak membohonginya, aku memang menyayangi Lia meskipun aku juga masih menyayangi Syla. Dan meski sempat terlintas pikiran bodoh untuk meninggalkan Lia demi mendapatkan Syla, toh otakku tak mengijinkan itu. Bagaimanapun aku tak mungkin meninggalkan wanita yang menemaniku selama 3 tahun belakangan ini, yang mampu menerimaku dengan apa adanya. 

Mungkin benar, tak mudah untuk benar-benar melupakan cinta pertamamu. Mungkin kau tak akan benar-benar menghapus cinta pertamamu dari hatimu. Dan kuputuskan untuk tetap menyimpan cinta pertamaku dalam diam untuk menjaga hati banyak orang. Kuputuskan untuk menyayangi Syla dengan cara lain, menyayanginya dengan menjadikannya teman baik hingga waktu berbaik hati menghapus segenap rasa yang pernah ada, mengganti dengan rasa persaudaraan padanya. Hingga waktu berbaik hati menggenapkan seluruh perasaanku hanya teruntuk Lia yang tak pernah meninggalkanku, menjadikannya cinta terakhirku.


Q. S. Al Isra (17) : 36-37

Dan janganlah kamu mengikuti segala sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya.
Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

 
blog template by suckmylolly.com