Senin, 19 Oktober 2015

Q. S. Asy-Syura (42) : 25-29

Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan Dia memperkenannkan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras. Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat. Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji. Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki

Jumat, 03 April 2015

Cinta Pertama

Mereka bilang kau akan sulit melupakan cinta pertamamu. Syla. Aku pikir dialah jawaban untuk pertanyaan siapa cinta pertamaku. 6 tahun yang lalu, awal putih biru-ku, saat pertama kali melihatnya seakan semesta hanya tertuju padanya.  Dengan rambut hitam sebahu yang dibiarkannya tergerai, dia tampak cantik. Syla tidak seperti perempuan seusianya yang saat itu mulai memoles wajahnya dengan lipgloss, mascara, ataupun eyeliner. Syla mampu merenggut seluruh perhatianku dengan wajahnya yang hanya dipoles dengan bedak tipis.


Cinta monyet. Mungkin kau akan berkata begitu seperti yang selama ini kupikirkan. Selepas SMP, kami melanjutkan SMA di sekolah yang berbeda. Satu dua kali kami bertemu secara tidak sengaja dan ia hanya tersenyum kepadaku. Ia memang cukup pendiam. Aku masih ingat beberapa kali berhasil mendapatkan nomor ponselnya dan mengirimkan sms-sms iseng padanya lalu ia hanya membalas seadanya, terkesan dingin dan cuek. Apakah aku sebegitu tak berharganya di matanya? Apa salahku hingga ia bahkan tak melihat ke arahku sama sekali? Beberapa kali pikiran seperti itu hadir dan segera ku abaikan untuk kemudian kuputuskan melepaskannya dan menghapus rasa di hatiku.


3 tahun yang lalu, awal putih abu-abuku, aku jatuh hati (lagi) pada seseorang. Lia merupakan gadis yang periang. Ia sedikit demi sedikit berhasil menghapus Syla dari hatiku. Aku menyayangi dan sangat menghargainya. Bahkan saat beberapa kali terdengar kabar kedekatanku dengan teman sekelasku ia tetap percaya padaku. Meskipun saat itu kuketahui ada seseorang yang menunggu hatinya dan aku pikir lebih baik dibanding diriku, namun begitu ia tetap saja memilihku. Sejak hari itu tak pernah lagi Syla terpikirkan olehku kecuali hanya sekilas. Terkadang beberapa ada yang bertanya tentang Syla dan aku hanya tersenyum seraya menjawab bahwa Syla hanya bagian dari masa laluku. Ya, aku memang tak mempunyai perasaan apapun lagi terhadapnya.


Namun kemudian kejadian tempo hari berhasil merobohkan seluruh pertahananku terhadap Syla. Otakku serasa membeku. Aku pikir aku telah melupakannya, aku pikir perasaanku kepadanya telah meluruh dengan sempurna. Namun nyatanya tidak. Kembali melihatnya tersenyum dari kejauhan saja ternyata mampun mengembalikan perasaanku. Dan kemudian aku merasa mendapat sengatan listrik saat kusadari ia bersama seorang laki-laki yang aku tebak merupakan kekasih Syla. Entah ini merupakan perasaan cemburu atau bagaima. Belum selesai aku berpikir, aku kembali dikejutkan dengan…


“Deva!” Lia melambaikan tangan ke laki-laki itu dan kemudian menarikku untuk mengikutinya.


Tebakanku ternyata benar, Deva merupakan kekasih Syla. Deva sangat ramah dan terlihat cerdas, pantas saja Syla jatuh hati padanya. Ia bercerita banyak hal termasuk awal jatuh hati pada Syla dan ia yang baru diterima Syla setelah dua kali mengatakan perasaannya. Syla hanya tersenyum dengan pipi memerah sementara Lia dengan senang hati mendengarkan semua kisah mereka.


Segalanya telah berubah sejak saat itu. Entah bagaimana perasaan ingin memiliki Syla justru lebih besar dibanding sebelumnya. Aku tak perduli dengan Lia, aku tak perduli dengan Deva, yang aku inginkan adalah bersama Syla. Beberapa kali kami berkumpul berempat, mungkin bisa disebut couple date. Beberapa kali juga aku bercanda dengan Syla. Ia sedikit berubah, kini ia mulai bisa membuka dirinya pada orang lain. Hal itu justu membuatku semakin (kembali) jatuh hati padanya.


Aku pikir Lia tak mempermasalahkan aku yang sering bertemu Syla, aku pikir ia tak menaruh curiga. Tetapi mungkin benar bahwa wanita memiliki semacam indra keenam untuk masalah seperti ini. Pada akhirnya Lia bertanya juga. Tapi kukatakan padanya adalah aku menyayanginya dan tak akan melepaskannya. Aku tak membohonginya, aku memang menyayangi Lia meskipun aku juga masih menyayangi Syla. Dan meski sempat terlintas pikiran bodoh untuk meninggalkan Lia demi mendapatkan Syla, toh otakku tak mengijinkan itu. Bagaimanapun aku tak mungkin meninggalkan wanita yang menemaniku selama 3 tahun belakangan ini, yang mampu menerimaku dengan apa adanya. 

Mungkin benar, tak mudah untuk benar-benar melupakan cinta pertamamu. Mungkin kau tak akan benar-benar menghapus cinta pertamamu dari hatimu. Dan kuputuskan untuk tetap menyimpan cinta pertamaku dalam diam untuk menjaga hati banyak orang. Kuputuskan untuk menyayangi Syla dengan cara lain, menyayanginya dengan menjadikannya teman baik hingga waktu berbaik hati menghapus segenap rasa yang pernah ada, mengganti dengan rasa persaudaraan padanya. Hingga waktu berbaik hati menggenapkan seluruh perasaanku hanya teruntuk Lia yang tak pernah meninggalkanku, menjadikannya cinta terakhirku.


Q. S. Al Isra (17) : 36-37

Dan janganlah kamu mengikuti segala sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya.
Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

Kamis, 21 November 2013

Oleh-Oleh dari STAN

STAN. Ah, siapa sih yang nggak mau masuk STAN? Sudah kuliahnya gratis, setelah lulus, kerja kita sudah dijamin lagi sebgai PNS. Itu kenapa amel sama nisa dan kiki ngebet pengen kesana. Yah walaupun pada akhirnya nggak berjodoh kesana, tes STAN kita beda sama tes masuk univ lain yang Cuma sekedar datang ke ruang ujian terus ngerjain soal. Perjalanannya itu loh yang penuh kenangan dan cerita yang tak terlupakan.
Nah di STAN itu daftarnya via online. Yah kayak sistem kebanyakan gitulah. Nah tap tesnya Cuma diadain di kota-kota tertentu dan kota tempat tinggal amel, Palangkaraya, nggak termasuk kesana. Dan akhirnya amel bareng nisa sama kiki mengambil tempat tes di kota terdekat, Banjarmasin, yang ditempuh dengan waktu kurang lebih empat jam.
PENGAMBILAN SEMACAM-KARTU-PESERTA
Dan ternyata sebelum tes kita disuruh ngambil yah-bisa-dibilang-semacam-kartu-peserta-gitulah ke kota tempat kita tes. Dan kita bertiga akhirnya berangkat ke Banjarmasin, ke luar kota untuk pertama kalinya tanpa didampingi orang tua ataupun guru atau apapun itulah. Tempat pengambilan semacam-kartu-peserta itu di kantor pajak Banjarmasin, jadinya sebelum berangkat ke Banjarmasin mamah nanyain tempat nginap yang terdekat dari situ ke temennya yang ada di Banjarmasin. Dan dipilihlah mes kalteng sebagai penginapan.
Hari itu kita mesan travel yang jam dua siang. Rencana awalnya sih pagi, tapi berhubung kiki paginya itu ada tes di sekolah penerbangan, jadilah diundur. And you know what, travelnya baru jemput sekitar setengah empat. Sumpah ini nunggunya ah begitulah. Dan dengan gampangnya sang supir bilang lupa, gedubrak!
Ah ya, hari ini bulan ramadhan, dan amel memutuskan tetap puasa, yang sayang aja kalo bolong gitu. Eh nggak taunya di tengah jalan amel mabok, dan jadilah amel memutuskan untuk membatalkan puasa amel sudah capek banget soalnya ini perut muntah dan badan pun lemes. Lalu kita sampe di Banjarmasin itu malam, sekitar jam setengah sembilan kalau nggak salah, yah untuk Banjarmasin yang ngikut ke WITA jadilah jam setengah sepuluh. Sampe di mes, kepala amel rasanya masih pusing, perut juga masih mual. Dan kita bertiga memilih untuk rebahan dulu sambil nonton TV, dan saat itu kita memilih nonton pesantren rock and roll, ah jatuh cinta banget sama cowo-yang itu-yang-sama-dinda-kirana haha.
Jadinya di malam kedatangan kita cuma makan roti yang emang dibawa dari rumah sebelum berangkat dan nggak nyari makanan lagi. Dan satu hal yang kita lupa, kalo ini Banjarmasin dan bakal susah buanget cari makan kalau siang. Sumpah ya, paginya itu kami ke kantor pajak dulu buat ngambil itu kartu peserta(bilang aja gitulah). Hari itu giliran amel yang ngambil, soalnya nisa sama kiki dapat giliran yang hari selanjutnya. Dan dari sekian berkas yang diperlukan, ternyata KTP perlu di-copy. Ah itu hari masih pagi banget, dan fotokopi terdekat dari situ masih tutup. Jadilah kita bertiga muter-muter dengan jalan kaki buat nyari fotokopi-an yang sudah buka. Setelah nanya ke orang, akhirnya dapat, walaupun cukup jauh. Akhirnya kita balik ke kantor pajak lagi. Ah akibat kita muter-muter itu, kita jadi nggak terlalu lama nunggu antriannya. Ah iya, waktu kita datang pertama tadi kita dikasih nomor antrian.
Dan setelah itu seketika lapar. Ya, kita bertiga nggak puasa, nisa sama kiki lagi halangan dan amel masih kurang enak badan. Dan jadilah kita kembali muter-muter buat nyari makan. Bayangin, dari malam emang nggak ada makan nasi, namanya juga perut indonesia. Dan setelah cerita ke mamah, mamah bilang temenna yang di Banjarmasin bakal bantuin nyari dan hasilnya nihil. Alhasil mamah sms lagi nyuruh makan aja ke cafe hotel arum. Yah daripada lapar tak terkira jadilah kita bertiga kesana. Dan harganya di luar ekspetasi, tidak ada menu dengan harga 30 ribu! Rata-rata itu 50 ribu dengan minum 20 ribu! Demi perut ini mikirnya, jadilah kami tetap makan disana. Amel mesan soto banjar karena lagi pengen makan yang berkuah, nisa mesan tom yam, dan kiki mesan ayam panggang. Sumpah, harganya nggak sesuai bro, mengecewakan! Soto banjar amel nggak enak eh, masih enakan juga yang dijual di warung-warung atau buatan sendiri yang biasa dimakan. Ayam kiki rasanya hambar, tanpa bumbu. Dan tom yam nisa cuma sedikit isinya. Dan entah bagaimana waktu bayar ke kasir harganya naik lagi, totalnya jadi 300 ribu untuk kita bertiga, broh! Pikir aja dengan rasa makanan yang yah-begitulah kita masing-masing harus bayar 100 ribu. Pikir aja amel soto banjar dengan lemon tea harus bayar 100 ribu! Bisa buat makan steak sama minum jus itu mah dan masih ada kembaliannya malah. Sumpah, kalau bukan demi perut ini..
Terus malam harinya rumah makan udah pada buka dan kami memilih makan di KFC yang dekat dari mes. Alhamdulillah yah 30 ribuan dapat nasi sama lauk yang enak, sumpah sampe malam perihal 100 ribu itu masih kita bahas, haha. Setelah dari KFC kita mau nyari minimarket dan nanya-nanya ke orang. Awalnya sih lanacar-lancar aja perjalanannya, tapi eh ada kayak bapak-bapak yang nongkrong di pangkalan ojek terus sambil tepuk-tepuk tangan. Jadi parno lah kita bertiga, secara cewe semua gitu. jadilah kita batalin niat ke minimarket dan berbalik arah balik ke mes.
TES-TES-TES
Terus beberapa minggu setelah pengambilan katu peserta itu diadakanlah tes. Nah tempat tesnya itu beda sama tempat pengambilan kartu peserta. Kalau kartu peserta di kantor pajaknya kan ya, nah kalau tesnya itu diadain di GOR. Lagi-lagi dicari penginapan yang terdekat dan dipilihlah hotel blue atlantic, kebetulan lagi diskon ramadhan tuh *hoho.
Dan setelah siang sampai disana, sorenya kita bertiga survei lokasi GORnya sekalian tempat duduknya, biar kalau pas hari H-nya nggak sibuk cuma buat nyari lokasi. Tenyata jaraknya lumayan jauh dari hotel, yah lumayan buat olahraga, hehe.
Setelah survei lokasi kita berniat nyari minimarket buat beli cemilan. Kita nanya ke warga sekitar, eh nunjuknya malah ke ramayana. Pikir aja, itu kan bukan mimarket. Eh terus entah gimana caranya tu orang malah nanya ke tukang becak dan kami dengan polosnya juga ikut-ikutan nanya. Jadilah sang tukang becak malah menawarkan tumpangan ke kita bertiga. Dengan memaksa. Kita bertiga sudah berkali-kali nolak tapi sang paman tukang becak tetap memaksa. Akhirnya hati kita bertiga luluh dengan keteguhan hati sang tukang becak yang berniat buat ngantar ke minimarket. Dan jreng jreng jreng adilah satu buah becak dinaikin kita bertiga. Silahkan dipikirkan sendiri gimana rasanya, posisi duduk benar-benar nggak pewe sama sekali, dan jaraknya lumayan jauh pula. Dan oh man, ternyata yang ditunjukin sang paman itu cuma toko biasa, itu juga ternyata sebenarnya awalnya pamannya nggak tau tempat yang mau dituju! Setelah sampai, sang paman menawari buat ngantar balik dan dengan serentak kita nggak mau dan ternyata jarak buat balik itu ternyata cukup jauh pemirsa, dua kilo kali ya.
Dan di hari H, tesnya diadain jam 9, jadilah kita berangkat dari hotel itu sekitar jam 8.30. sesampainya disana, ternyata sudah sepi, ibu-ibu yang di luar GOR pake bilang kalau tesnya sudah mulai lagi. Dan jadilah kita bertiga lari-lari buat masuk ke dalam. Semua orang memang sudah di posisi masing-masing tapi ternyata tes belum dimulai. Jadilah kita bertiga yang datang telat ini dengan cueknya melewati tengah GOR buat ngambil posisi duduk masing-masing. Sumpah, nggak enak banget tesnya, susah nyari posisi pewe, nggak ada sandaran, dan nggak ada meja, jadilah nulis di papan alas yang dibawa masing-masing. Setiap berapa menit selalu ganti posisi, mulai badan tegak, bungkus, kaki dilurusin, kaki disilang, kaki disilang di tempat duduk, sampai kaki diangkat satu. Selesai dari tes ini jadilah kita bertiga yang awalnya niat banget buat jalan-jalan, sesampainya di hotel langsung tepar dan tidur.

Selasa, 05 November 2013

Memories

Hujan, 30 Oktober, dengan sempurna meresonasikan semua ingatan tentangmu, 3 tahun yang lalu. Masihkah kau ingat hari ini sayang? Hari dimana kita seharusnya merayakan 3 tahun hubungan kita. Masih kuingat pipimu yang bersemu merah saat aku menyatakan perasaanku. Tepat tiga tahun sebelum hari ini, di restoran cepat saji itu, saat hujan turun seperti hari ini, kau mengangguk dengan malu-malu.

Sayang, masih segar di ingatanku, bagaimana kita yang saling mencuri pandang di tengah jam pelajaran lalu seketika membuang muka saat pandangan kita berjumpa. Senyummu yang dibingkai dua lensung pipi itu masih dapat kulihat dengan jelas bahkan hingga kini, meski kau telah pergi meninggalkanku.

Sayang, aku masih ingat perasaan itu, debar itu saat pertama kali mengajakmu keluar malam, menghadiri pensi sekolah. Kau tahu betapa gugupnya aku saat meminta izin kepada kedua orang tuamu. Dan teman-teman sekelas kita yang tiba-tiba heboh melihat kita datang berdua karena sebelumnya kita terlalu malu bahkan hanya untuk bertatapan, hanya berani melalui sms, betapa konyolnya jika diingat kembali.

Sayang, tahukah kau bahkan hingga kini aku tak bisa melupakanmu? Setiap sudut kota ini menyimpan kenangan kita, langkah-langkah kebersamaan kita. Lihatlah ke taman kota di dekat bundara kecil itu, tempat kita menghabiskan sore. Saat itu, masih banyak pedagang disana dan aku masih begitu hafal cemilan favoritmu, piscoke, pisang coklat keju. Melihatmu memakannya dengan lahap selalu membuatku begitu gemas. Atau lihatlah ke palangkaraya mall yang kini bak bangunan mati itu, di foodcourt-nya kau membawakan kue ulang tahun pada ulang tahunku yang ke 16. Atau di 21-nya saat kita kehabisan tiket dan terpaksa menonton kartun animasi, ekspresimu, tawamu saat itu kini begitu ku rindukan. Dan meskipun dengan tubuhmu yang mungil itu, kau sangat suka wisata kuliner. Setiap restoran ataupun warung makan yang baru saja dibuka, tak pernah absen dari tujuan kita, menghabiskan waktu, bercengkrama.

Sayang, aku baru saja menyelesaikan tahun pertamaku di fakultas kedokteran universitas Indonesia. Ya, di kampus impianku sayang. Andai kau bisa melihatku saat aku mengenakan yellow jacket-nya. Andai aku bisa berbagi kebahagiaan ini bersamamu duhai sayangku.

Sayang, tahukah kau bahwa aku sangat amat merindukanmu? Apakah kau juga merindukanku? Kau memintaku mencari cinta yang lain saat kau telah pergi, tapi aku masih menunggu hadirmu, aku masih sendiri, sayang. Mungkin kini ku tak dapat lagi untuk melihatmu, mungkin 10 Januari dua tahun yang lalu benar-benar merupakan perpisahan kita, perpisahan yang tak terelakkan lagi. Aku hanya dapat berdoa di atas pusaramu semoga kau tenang di alam sana, semoga kita kan dipertemukan kembali disana, dalam keabadian.

Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana, tenanglah diriku dalam kedaimaian.
Ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi, namun cintamu abadi

Sabtu, 02 November 2013

Q.S. An-Naml (27) : 62-63

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan ,menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat. Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha-tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan

Senin, 28 Oktober 2013

Hati yang Patah

Aku akan pergi ke Surabaya. Jangan pernah mencariku lagi, kau pantas mendapatkan yang lebih baik.
Pesan singkat Kenza dini hari tadi masih berputar di benakku sepanjang perjalanan menuju bandara. Ku pejamkan mataku, pikiranku sibuk mereka-reka apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan terjadi tanpanya di kota kecil ini, Palangkaraya. Kenangan-kenangan dua tahun kebersamaan kami memenuhi pikiranku.
Mereka bilang Kenza selalu menyakitiku. Mereka selalu berkata tentang Kenza yang selalu egois. Kenza yang mau menang sendiri. Kenza yang tak pernah menghargaiku. Kenza yang lebih memilih menghabiskan waktunya bersama teman-temannya bermain games online hingga tengah malam. Tapi Kenza lebih dari sekadar itu.
Aku rindu Kenza yang membawakan kado serta kue ulang tahun pada tengah malam di ulang tahunku yang ke enam belas. Aku rindu saat kami hanya duduk dalam diam di taman kota. Aku rindu dengan sambutan hangat keluarganya setiap kali aku main ke rumahnya. Aku rindu Kenza yang setiap kali ketahuan merokok sibuk membela dirinya. Aku rindu Kenza yang menjadi kapten sepak bola sekolah. Aku rindu dirinya yang aku tahu mencintaiku.
“Sabarlah, Fa. Aku yakin kita masih sempat menyusulnya.”
“Iya, Ra.” Hanya kata itu yang dapat ku ucapkan, kata yang penuh dengan pengharapan.
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, motor kami baru tiba di bandara. Aku tak mempunyai ide lain kecuali berlari. Takut-takut kalau aku tak sempat menemui Kenza dan akan kembali bertemu dengannya setelah waktu yang demikian lama.
Pikiranku kalut. Mataku dengan liar memandang sekeliling berharap menemukan sosok Kenza di salah satu sudutnya. Air mataku hampir tumpah dan hampir saja aku menyerah saat Kara menunjuk ke arah pintu masuk. Tante Vani, ibunda Kenza berada di sana. Dan tanpa berpikir segera ku temui tante Vani.
“Ah rupanya kau, Nafa. Tante kangen sekali, sudah lama kau tak main ke rumah. Siren juga selalu menanyakanmu, ia selalu mencarimu.”
Aku mencoba tersenyum, menahan air mataku yang hampir melewati batas pertahanannya. Sambutan hangat tante Vani, pelukannya. Hal yang selalu ku rindukan dari keluarga ini. Kepergian bunda saat melahirkanku membuatku kehilangan sosok seorang ibu. Ah, apakah tante Vani tak mengetahui perpisahanku dengan Kenza lima bulan yang lalu.
“Emm, jika tante mengijinkan aku ingin bertemu Kenza. Aku ingin melihatnya sebelum kepergiannya ke Surabaya.”
“Ah ya, tentu saja kedatanganmu kesini adalah untuk melepas keberangkatan Kenza. Tunggulah sebentar disini, tante akan memanggilnya.”
Dan disanalah Kenza, berjalan ke arahku. Tidak, dia seperti bukan Kenza yang ku kenal. Sorot matanya memancarkan keengganan bertemu denganku,  tidak ada cinta disana. Semua kebagiaanku seakan telah terenggut oleh tatapannya itu. Tante Vani dan Kara menjauh dari kami, memberikan ruang untuk berbicara.
“Aku tak punya banyak waktu hanya untuk berbasa-basi. Katakan apa maumu?”
Oh Tuhan, bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata sedingin itu. Bagaimana bisa dia melupakanku secepat ini. Bagaimana bisa cintanya menguap begitu saja.
“Selamat ulang tahun, Za. Hapy Kenza’s day.” Aku berusaha terlihat ceria.
“Itukah? Tidak adakah hal penting lain yang ingin kau katakan? Cepatlah, aku terburu-buru.”
Ya Tuhan, tolong kuatkan aku. Bagaimana bisa lelaki yang aku cintai berubah menjadi sosok yang seolah tak mengenalku, menganggapku seperti orang lain tak dikenal yang tak sengaja berjumpa. Atau justru menganggapku sebagai orang terakhir yang ingin ditemuinya. Kuatkan hatiku, Tuhan.
“Semoga kau bahagia dengan pilihan kepergianmu ke Surabaya.” Aku menggigit bibirku, berusaha terlihat tegar menahan rasa sesak di dadaku. Ku berikan sebungkus kado bewarna biru dengan tangan gemetar.
“Tak perlu. Bawalah kado ini pulang. Aku ingin melepaskan semua kenangan tentangmu. Aku tak ingin ada hal tentangmu yang masih tersisa saat aku telah di Surabaya. Aku ingin membuka lembaran hidup yang baru disana, tanpa bayang-bayangmu lagi.”
Deg. Kata-kata Kenza seketika meruntuhkan pertahanan hatiku. Air mataku seketika tumpah dan tanpa memperdulikan pandangan orang sekitar aku berlari menjauhinya, berusaha menata hatiku yang berantakan. Tak ada pelukan perpisahan, tak ada permohonan jangan pergi. Hanya ada isak tangis dan perih. Hanya ada hati yang patah.


 
blog template by suckmylolly.com